Posted on Desember 14th, 2009 at 1:15 pm by fathculjannah and tagged Masuknya Islam Serta Penyebaran di Indonesia Pada Masa Kerajaan, islam di indonesia, kerajaan islam
;}
Masuknya Islam Serta Penyebaran di Indonesia
Pada Masa Kerajaan
Para ahli memperkirakan masuknya Islam di Indonesia pada abad ke-7 Masehi dengan bukti-bukti sebagai berikut :
1. Marcopolo seorang musafir dari Venesia telah mengunjungi Perlak di Sumatera pada tahun 1292 dalam catatan perjalanannya mayoritas penduduk di Perlak memeluk agama Islam.
2. Di daerah Pasai, Sumatera terdapat makam Muslim bernama Malik Al Shaleh tahun 1297 pada nisannya.
3. Di daerah Laren, Gresik, Jawa Timur ditemukan makam tahun 1082 milik seorang muslimah bernama Fatimah binti Maimun.
Awalnya dipercaya masuknya Islam tersebut melalui 2 jalur :
1. Jalur selatan :
Arab Yaman Gujarat Pantai barat pulau Sumatera (Pasai)
2. Jalur utara
Arab Damaskus Baghdad Gujarat Pantai barat pulau Sumatera (Pasai)
Prof. Dr. Hamka menyanggah keberadaan dua jalur tersebut, beliau menyimpulkan berdasar atas penelitiannya bahwa Islam yang berkembang di Indonesia berasal langsung dari Arab. Hal ini dibuktikan dengan adanya catatan sejarah dan kerajaan Kalingga (pada masa pemerintahan R. Sima) bahwa ada seorang utusan Arab (pada masa Bani Umayah) yang datang untuk meneliti adapt kebiasaan masyarakat setempat guna menentukan cara berdakwah yang paling bijaksana.
Cara penyebaran Islam di Nusantara pun didapat dari catatan utusan Arab tersebut yang menyebutkan antara lain :
1. Hubungan perdagangan
2. Pendidikan Pesantren
3. Perkawinan
4. Pendirian pusat-pusat pemerintahan
5. Pertunjukan kesenian
A. Penyebaran Islam di Sumatera
1. Kerajaan Samudera Pasai (1292)
Merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Raja pertamanya Al-Malikush-shaleh. Pada masa kepemimpinan raja tersebut Marcopolo datang. Agama pertama yang dianut oleh kerajaan ini adalah hindu. Raja Al-Malikush berhasil diislamkan oleh Syekh Burhanudin. Maka kerajaan ini berubah menjadi kerajaan Islam.
* Penerus kerajaan Samudera untuk kepemimpinan seterusnya adalah :
a. Al-Malikush Zhahir I (1297-1326)
b. Al-Malikush Zhahir II (1326-1348)
c. Zainal Abidin (1348-1412)
Kerajaan Samudera Pasai runtuh pada masa kepemimpinan raja Zainal Abidin karena diserang oleh kerajaan Siam dan Mataram.
2. Kerajaan Islam Aceh (1507)
Pendirinya adalah Sultan Ali Mughayat Syah(1507-1522).
Urutan-urutan raja setelah raja Sultan Ali Mughayat Syah:
1. Sultan Salahudin (1552-1537)
2. Sultan Alauddin Riayat Syah (1537-1568)
3. Sultan Husain (1568-1575)
4. Sultan Alauddin Mansyur Syah (1577-1586)
5. Sultan Ali Riayat Syah (1586-1588)
6. Sidi Al-Mukammil ( Allauddin Riayat Syah II ) (1588-1604)
7. Iskandar Muda masa kejayaan (1607-1636)
Pada masa pemerintahan Iskandar Muda inilah Islam dapat tersebar sampai ke pelosok Sumatera. Namun dengan berakhirnya masa pemerintahan dan ketidakmauan penerusnya Ratu Safiatuddin (1649-1686) dan Ratu Nurul Alam Nakbatuddin (1684-1686) untuk memperatahankan daerah kekuasaan maka runtuhlah kerajaan ini di tangan Portugis.
B. Penyebaran Islam di Jawa
Perkembangan agama Islam secara teratur di pulau Jawa diperkirakan dimulai pada abad ke-15 Masehi dengan datangnya seorang mubaligh bertnama Syekh Maulana Malik Ibrahim ke Gresik, Jawa Timur, ia bukanlah orang pertama yang membawa Islam ke Jawa namun merupakan orang pertama yang sengaja bekerja menyebarkan agama ini di pulau Jawa.
Sebelum menginjak ke kerajan-kerajaan Islam,terlebih dahulu akan dibahas mubaligh-mubaligh lain yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di Jawa, mereka lebih dikenal sebagai Walliyullah Sanga, yaitu :
a. Syekh Maulana Malik Ibrahim atau lebih dikenal dengan Syekh Maulana
Manghribi, merupakan orang pertama yang merintis berdirinya pondok
pesantren, makamnya terletak di kota Gresik.
b. Raden Rahmat (Sunan Ampel) merupakan mubaligh Islam yang berkesimpulan
bahwa penyebaran agama Islam akan lebih cepat bila memiliki pusat
pemerintahan sebagai pelindung usaha dakwah. Ia juga berhasil menyusup ke
dalam benteng kerajaan Majapahit untuk kepentingan perang. Makamnya
terdapat di komplek Masjid Ampel, Surabaya.
c. Mahmud Ibrahim (Sunan Bonang) adalah putra dari Sunan Ampel dan dakwah-dakwahnya adalah pesisir utara Jawa Timur. Sarana dakwahnya yang terkenal adalah melalui media seni, beliau menciptakan Gending Darma dan meninggal di Tuban, Jawa Timur.
d. Raden Paku (Sunan Giri) merupakan seorang bangsawan yang menyebarkan
Islam di tanah kelahirannya. Media dakwahnya adalah lagu untuk mendidik
anak-anak, lagu ciptaannya antara lain Asmaradana dan Pucung, makamnya di
Gresik.
e. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati/ Fatahillah/ Faletehan) adalah seorang ulama yang berasal dari daerah Pasai, Sumatera dan lama belajar agama di Makkah. Selain sebagai ulama, beliau juga seorang prajurit terkenal kerajaan Islam Demak serta perintis berdirinya berdirinya kota Jakarta. Makamnya dapat dijumpai di Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat.
f. Jafar Sidiq (Sunan Kudus) menyebarkan Islam di daerah utara Jawa Tengah.
Beliau dikenal sebagai sastrawan yang menciptakan Gending Maskumambang
dan Mijil, selain itu beliau berdakwah menggunakan cerita-cerita yang bersifat
agama, makamnya berada di Kudus.
g. Raden Pratowo (Sunan Muria) adalah pencipta Gending Sinom dan Kinanti yang digunakan pula sebagai media dakwah, beliau berhasil menyebarkan Islam terutama di tengah masyarakat maritime, beliau meninggal di Gunung Muria.
h. Syarifuddin (Sunan Drajat) adalah putra Sunan Ampel dan dikenal sebagai
dermawan. Tidak kalah dengan kakaknya, beliau pun menciptakan Gending
Pangkur sebagai sarana dakwah di daerah Sedayu yang juga tempat keberadaan
makamnya.
i. Raden Mas Syahid (Sunan Kalijogo) beliau mengubah cerita pewayangan menjadi bernafas Islami sehingga dakwahnya dapat diterima dengan baik. Sampai-sampai para pengikutnya kalangan bangsawan dsan cerdik pandai di daerah Selatan Jawa Tengah.
Selain Waliyullah diatas, sebenarnya ada seorang wali lagi bernama Syekh Siti Jenar, namun beliau mengembangkan ajaran Manunggaling Kawula Gusti yaitu yang menyatukan antara Allah dan makhluk-Nya. Hal ini berbahaya untuk masyarakat, maka kesembilan Waliyullah diatas sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati.
Kerajaan Islam di Jawa yang merintis pusat pemerintahan Islam adalah kerajaan Giri, kerajaan ini diprakarsai oleh Sunan Giri. Begitu kuatnya kerajaan ini sampai berani melawan Sultan Agung (Penguasa Mataram) karena dianggap menodai kemurnian Islam dan memiliki daerah yang luas sampai ke Maluku. Berakhirnya kerajaan ini karena tidak adanya penerus tahta seusai jalur keturunan.
Beberapa kerajaan di Pulau Jawa, yaitu :
1. Kerajaan Islam Demak
Nama Raja : 1. Raden Patah (1500-1518) pendiri
2. Adipati Unus (1518-1521)
3. Sultan Trenggono (1521-1546)
-
- Sejarah : Demak adalah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Pada awalnya adalah sebuah wilayah dengan nama Glagah atau Bintoro yang berada di bawah kekuasaan Majapahit. Majapahit mengalami kemunduran pada akhir abad ke-15. Kemunduran ini memberi peluang bagi Demak untuk berkembang menjadi kota besar dan pusat perdagangan. Dengan bantuan para ulama Walisongo, Demak berkembang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa dan wilayah timur Nusantara.
Sebagai kerajaan, Demak diperintah silih berganti oleh raja-raja. Demak didirikan oleh Raden Patah yang bergelar Sultan Alam Akhbar al Fatah. Raden Patah sebenarnya adalah Pangeran Jimbun, putra raja Majapahit. Pada masa pemerintahannya, Demak berkembang pesat. Daerah kekuasaannya meliputi daerah Demak sendiri, Semarang, Tegal, Jepara dan sekitarnya, dan cukup berpengaruh di Palembang dan Jambi di Sumatera, serta beberapa wilayah di Kalimantan. Karena memiliki bandar-bandar penting seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Gresik, Raden Patah memperkuat armada lautnya sehingga Demak berkembang menjadi negara maritim yang kuat.
Dengan kekuatannya itu, Demak mencoba menyerang Portugis yang pada saat itu menguasai Malaka. Demak membantu Malaka karena kepentingan Demak turut terganggu dengan hadirnya Portugis di Malaka. Namun, serangan itu gagal.
Raden Patah kemudian digantikan oleh Adipati Unus (1518-1521). Walau ia tidak memerintah lama, tetapi namanya cukup terkenal sebagai panglima perang yang berani.
Ia berusaha membendung pengaruh Portugis jangan sampai meluas ke Jawa. Karena mati muda, Adipati Unus kemudian digantikan oleh adiknya, Sultan Trenggono (1521-1546). Di bawah pemerintahannya, Demak mengalami masa kejayaan. Trenggono berhasil membawa Demak memperluas wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1522, pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah menyerang Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Baru pada tahun 1527, Sunda Kelapa berhasil direbut. Dalam penyerangan ke Pasuruan pada tahun 1546, Sultan Trenggono gugur. Sepeninggal Sultan Trenggono, Demak mengalami kemunduran. Terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Sekar Sedolepen, saudara Sultan Trenggono yang seharusnya menjadi raja dan Sunan Prawoto, putra sulung Sultan Trenggono. Sunan Prawoto kemudian dikalahkan oleh Arya Penangsang, anak Pengeran Sekar Sedolepen.
Namun, Arya Penangsang pun kemudian dibunuh oleh Joko Tingkir, menantu Sultan Trenggono yang menjadi Adipati di Pajang. Joko Tingkir (1549-1587) yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya memindahkan pusat Kerajaan Demak ke Pajang.
2. Kerajaan Pajang
Nama Raja : 1. Sultan Hadiwijaya Jaka Tingkir (1549-1587)
2. Sultan Benowo
3. Sutawijaya
Sejarah : Sultan Hadiwijaya kemudian membalas jasa para pembantunya yang telah berjasa dalam pertempuran melawan Arya Penangsang. Mereka adalah Ki Ageng Pemanahan menerima hadiah berupa tanah di daerah Mataram (Alas Mentaok), Ki Penjawi dihadiahi wilayah di daerah Pati, dan keduanya sekaligus diangkat sebagai bupati di daerahnya masing-masing. Bupati Surabaya yang banyak berjasa menundukkan daerah-daerah di Jawa Timur diangkat sebagai wakil raja dengan daerah kekuasaan Sedayu, Gresik, Surabaya, dan Panarukan. Ketika Sultan Hadiwijaya meninggal, beliau digantikan oleh putranya Sultan Benowo. Pada masa pemerintahannya, Arya Pangiri, anak dari Sultan Prawoto melakukan pemberontakan. Namun, pemberontakan tersebut dapat dipadamkan oleh Pangeran Benowo dengan bantuan Sutawijaya, anak angkat Sultan Hadiwijaya. Tahta Kerajaan Pajang kemudian diserahkan Pangeran Benowo kepada Sutawijaya. Sutawijaya kemudian memindahkan pusat Kerajaan Pajang ke Mataram.
Bidang keagamaan : Raden Patah dan dibantu para wali, Demak tampil sebagai pusat penyebaran Islam. Raden Patah kemudian membangun sebuah masjid yang megah, yaitu Masjid Demak.
Bidang perekonomian : Demak merupakan pelabuhan transito (penghubung) yang penting. Sebagai pusat perdagangan Demak memiliki pelabuhan-pelabuhan penting, seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Gresik. Bandar-bandar tersebut menjadi penghubung daerah penghasil rempah-rempah dan pembelinya. Demak juga memiliki penghasilan besar dari hasil pertaniannya yang cukup besar. Akibatnya, perekonomian Demak berkembang degan pesat.
3. Kerajaan Mataram
Nama Raja : 1. Panembahan Senopati (1586-1601)
2. Mas Jolang (1601-1613)
3. Mas Rangsang (1613-1645)
Sejarah : Sutawijaya yang mendapat limpahan Kerajaan Pajang dari Sutan Benowo kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke daerah kekuasaan ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, di Mataram. Sutawijaya kemudian menjadi raja Kerajaan Mataram dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama.
Pemerintahan Panembahan Senopati (1586-1601) tidak berjalan dengan mulus karena diwarnai oleh pemberontakan-pemberontakan. Kerajaan yang berpusat di Kotagede (sebelah tenggara kota Yogyakarta sekarang) ini selalu terjadi perang untuk menundukkan para bupati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mataram, seperti Bupati Ponorogo, Madiun, Kediri, Pasuruan bahkan Demak. Namun, semua daerah itu dapat ditundukkan. Daerah yang terakhir dikuasainya ialah Surabaya dengan bantuan Sunan Giri.
Setelah Senopati wafat, putranya Mas Jolang (1601-1613) naik tahta dan bergelar Sultan Anyakrawati. Dia berhasil menguasai Kertosono, Kediri, dan Mojoagung. Ia wafat dalam pertempuran di daerah Krapyak sehingga kemudian dikenal dengan Pangeran Sedo Krapyak.
Mas Jolang kemudian digantikan oleh Mas Rangsang (1613-1645). Raja Mataram yang bergelar Sultan Agung Senopati ing Alogo Ngabdurracham ini kemudian lebih dikenal dengan nama Sultan Agung. Pada masa pemerintahannya, Mataram mencapai masa keemasan. Pusat pemerintahan dipindahkan ke Plered. Wilayah kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat. Sultan Agung bercita-cita mempersatukan Jawa. Karena merasa sebagai penerus Kerajaan Demak, Sultan Agung menganggap Banten adalah bagian dari Kerajaan Mataram. Namun, Banten tidak mau tunduk kepada Mataram. Sultan Agung kemudian berniat untuk merebut Banten.
Namun, niatnya itu terhambat karena ada VOC yang menguasai Sunda Kelapa. VOC juga tidak menyukai Mataram. Akibatnya, Sultan Agung harus berhadapan dulu dengan VOC. Sultan Agung dua kali berusaha menyerang VOC: tahun 1628 dan 1629.Penyerangan tersebut tidak berhasil, tetapi dapat membendung pengaruh VOC di Jawa.
Sultan Agung membagi sistem pemerintahan Kerajaan Mataram seperti berikut.
(1) Kutanegara, daerah pusat keraton. Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh Patih Lebet (Patih Dalam) yang dibantu Wedana Lebet (Wedana Dalam).
(2) Negara Agung, daerah sekitar Kutanegara. Pelaksanaan pemerintahan dipegang Patih Jawi (Patih Luar) yang dibantu Wedana Jawi (Wedana Luar).
(3) Mancanegara, daerah di luar Negara Agung. Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh para Bupati.
(4) Pesisir, daerah pesisir. Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh para Bupati atau syahbandar.
Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan digantikan oleh Amangkurat I (1645-1677). Amangkurat I menjalin hubungan dengan Belanda. Pada masa pemerintahannya. Mataram diserang oleh Trunojaya dari Madura, tetapi dapat digagalkan karena dibantu Belanda.
Amangkurat I kemudian digantikan oleh Amangkurat II (1677-1703). Pada masa pemerintahannya, wilayah Kerajaan Mataram makin menyempit karena diambil oleh Belanda.
Setelah Amangkurat II, raja-raja yang memerintah Mataram sudah tidak lagi berkuasa penuh karena pengaruh Belanda yang sangat kuat. Bahkan pada tahun 1755, Mataram terpecah menjadi dua akibat Perjanjian Giyanti:
Ngayogyakarta Hadiningrat (Kesultanan Yogyakarta) yang berpusat di Yogyakarta dengan raja Mangkubumi yang bergelar Hamengku Buwono I dan Kesuhunan Surakarta yang berpusat di Surakarta dengan raja Susuhunan Pakubuwono III. Dengan demikian, berakhirlah Kerajaan Mataram.
Kehidupan sosial ekonomi Mataram cukup maju. Sebagai kerajaan besar, Mataram maju hampir dalam segala bidang, pertanian, agama, budaya. Pada zaman Kerajaan Majapahit, muncul kebudayaan Kejawen, gabungan antara kebudayaan asli Jawa, Hindu, Buddha, dan Islam, misalnya upacara Grebeg, Sekaten. Karya kesusastraan yang terkenal adalah Sastra Gading karya Sultan Agung. Pada tahun 1633, Sultan Agung mengganti perhitungan tahun Hindu yang berdasarkan perhitungan matahari dengan tahun Islam yang berdasarkan perhitungan bulan.
4. Kerajaan Banten
Nama Raja : 1. Sultan Hasanudin (1522- 1570)
2. Pangeran Yusuf (1570-1580)
3. Maulana Muhammad
4. Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1692)
5. Sultan Abdulkahar raja pembantu
Sejarah : Kerajaan yang terletak di barat Pulau Jawa ini pada awalnya merupakan bagian dari Kerajaan Demak. Banten direbut oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah. Fatahillah adalah menantu dari Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah adalah salah seorang wali yang diberi kekuasaan oleh Kerajaan Demak untuk memerintah di Cirebon. Syarif Hidayatullah memiliki 2 putra laki-laki, pangeran Pasarean dan Pangeran Sabakingkin. Pangeran Pasareaan berkuasa di Cirebon. Pada tahun 1522, Pangeran Saba Kingkin yang kemudian lebih dikenal dengan nama Hasanuddin diangkat menjadi Raja Banten.
Setelah Kerajaan Demak mengalami kemunduran, Banten kemudian melepaskan diri dari Demak. Berdirilah Kerajaan Banten dengan rajanya Sultan Hasanudin (1522- 1570). Pada masa pemerintahannya, pengaruh Banten sampai ke Lampung. Artinya, Bantenlah yang menguasai jalur perdagangan di Selat Sunda. Para pedagang dari Cina, Persia, Gujarat, Turki banyak yang mendatangi bandar-bandar di Banten. Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat perdagangan selain karena letaknya sangat strategis, Banten juga didukung oleh beberapa faktor di antaranya jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) sehingga para pedagang muslim berpindah jalur pelayarannya melalui Selat Sunda. Faktor lainnya, Banten merupakan penghasil lada dan beras, komoditi yang laku di pasaran dunia.Sultan Hasanudin kemudian digantikan putranya, Pangeran Yusuf (1570-1580).Pada masa pemerintahannya, Banten berhasil merebut Pajajaran dan Pakuan.
Pangeran Yusuf kemudian digantikan oleh Maulana Muhammad. Raja yang bergelar Kanjeng Ratu Banten ini baru berusia sembilan tahun ketika diangkat menjadi raja. Oleh sebab itu, dalam menjalankan roda pemerintahan, Maulana Muhammad dibantu oleh Mangkubumi. Dalam tahun 1595, dia memimpin ekspedisi menyerang Palembang. Dalam pertempuran itu, Maulana Muhammad gugur.
Maulana Muhammad kemudian digantikan oleh putranya Abulmufakhir yang baru berusia lima bulan. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Abulmufakhir dibantu oleh Jayanegara. Abulmufakhir kemudian digantikan oleh Abumaali Ahmad Rahmatullah. Abumaali Ahmad Rahmatullah kemudian digantikan oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1692).
Sultan Ageng Tirtayasa menjadikan Banten sebagai sebuah kerajaan yang maju dengan pesat. Untuk membantunya, Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1671 mengangkat purtanya, Sultan Abdulkahar, sebagai raja pembantu. Namun, sultan yang bergelar Sultan Haji berhubungan dengan Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa yang tidak menyukai hal itu berusaha mengambil alih kontrol pemerintahan, tetapi tidak berhasil karena Sultan Haji didukung Belanda. Akhirnya, pecahlah perang saudara. Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap dan dipenjarakan. Dengan demikian, lambat laun Banten mengalami kemunduran karena tersisih oleh Batavia yang berada di bawah kekuasaan Belanda.
5. Kerajaan Cirebon
Pendiri : Sunan Gunung Jati dengan gelar Syarif Hidayatullah
Nama Raja : 1. Syarif Hidayatullah
2. Pangeran Pasarean
Sejarah : Kerajaan yang terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah didirikan oleh salah seorang anggota Walisongo, Sunan Gunung Jati dengan gelar Syarif Hidayatullah.Syarif Hidayatullah membawa kemajuan bagi Cirebon. Ketika Demak mengirimkan pasukannya di bawah Fatahilah (Faletehan) untuk menyerang Portugis di Sunda Kelapa, Syarif Hidayatullah memberikan bantuan sepenuhnya. Bahkan pada tahun 1524, Fatahillah diambil menantu oleh Syarif Hidayatullah. Setelah Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa, Syarif Hidayatullah meminta Fatahillah untuk menjadi Bupati di Jayakarta. Syarif Hidayatullah kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Pangeran Pasarean. Inilah raja yang menurunkan raja-raja Cirebon selanjutnya.Pada tahun 1679, Cirebon terpaksa dibagi dua, yaitu Kasepuhan dan Kanoman. Dengan politik de vide at impera yang dilancarkan Belanda yang pada saat itu sudah berpengaruh di Cirebon, kasultanan Kanoman dibagi dua menjadi Kasultanan Kanoman dan Kacirebonan. Dengan demikian, kekuasaan Cirebon terbagi menjadi 3, yakni Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Cirebon berhasil dikuasai VOC pada akhir abad ke-17.
C. Penyebaran Islam di Kalimantan
Persebaran Islam di Kalimantan tidak dapat diketahui dengan jelas namun sedikit banyak dipengaruhi oleh berdirinya Kerajaan Islam Brunai (cikal bakal Brunai Darussalam) yang berdiri pada tahun 1521. Pada masa pemerintahan Sultan Rexar, bangsa Portugis melalui raja Philipina, De Sande, mengirimkan tuntutan :
1. Sultan tidak boleh menyiarkan agama Islam di Philipina.
2. Agama Kristen supaya disebarluaskan di Brunai dan sekitarnya.
Hal ini menandakan betapa besar pengaruh kerajaan Brunai yang menyebarkan Islam.Keruntuhan kerajaan ini diakibatkan penyerangan oleh Raja De Sande.
Namun hal ini memprakarsai berdirinya kerajaan-kerajaan Isalm di Kalimantan antara lain Kerajaan Islam Bandar dan Sukanda.
D. Penyebaran Islam di Sulawesi
Saat kerajaan Ternate (1570-1583), rajanya yang bernama Sultan Baabullah adalah seorang muslim dan berhasil mengislamkan raja Makasar, Sulawesi. Pada tahun 1602 raja Gowa, Raja Karaeng Tonigallo, menerima dengan baik kedatangan 3 mubaligh Minangkabau :
1. Datuk RI Bandang.
2. Datuk RI Tiro.
3. Datuk Matimang.
Mereka berhasil mengislamkan Karaeng Tonigallo sehingga bergelar Sultan Alauddin Awwalul Islam. Kemudian Sultan Alauddin mengislamkan kerajaannya dan sekitarnya.
Sultan terbesar Sulawesi yang menyebarkan Islam paling jaya adalah Sultan Hassanuddin (1653-1669) yang memerintah Makasar dengan daerah kekuasaan sanagat luas.
E. Penyebaran Islam di Maluku dan Irian Jaya
Penyebaran Isalm di Maluku dikarenakan juga luas daerah kekuasaan Sunan Giri pada masa pemerintahannya di Kerajaan Giri sampai dengan Maluku. Bahkan murid-murid langsung dari Sunan Giri banyak yang menetap dan berdakwah di sana.
Seperti halnya di daerah-daerah lain, masuknya Isalm di Maluku sukar dipastikan dengan tepat. Namun orang pertama yang terkenal menyebarkan Islam di Maluku adalah Datuk Maulana Husain, beliau datang ke Ternate dan berhasil mengislamkan raja Ternate, Raja Gapi Baguna II.
Masa pemerintahan Gapi Baguna II setelah berganti agama (1466-1486), digunakan oleh sang raja untuk menyebarkan Islam dan akhirnya kerajaannya berubah tatanan hukum menjadi kerajaan Islam.
Sultan Ternate lain yang berperan dalam penyebaran Islam adalah Sultan Zainal Abidin, yang dengan sengaja meletakkan tampuk kepemimpinannya untuk memperdalam Islam pada Sunan Giri, kemudian menyebarluaskannya.
Orang yang sangat berjasa dalam penyebaran Islam di Tidore adalah Syekh Manshur dari Arab. Beliau berhasil mengislamkan raja Tidore, Cirililiati, yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Jamaluddin dan mengislamkan pula rakyatnya. Sultan Jamaluddin ini juga menyebarkan Islam di Irian melalui hubungan perdagangan dan lawatannya ke daerah itu.
Kesimpulan
Islam di Indonesia sudah masuk sejak abad ke-7 denagan adanya beberapa bukti berita-berita dan makam penyiar Islam di pelosok negeri. Cara penyebaran Islam di Nusantara antara lain meliputi :
1. Hubungan perdagangan
2. Pendidikan Pesantren
3. Perkawinan
4. Pendirian pusat-pusat pemerintahan
5. Pertunjukan kesenian
Penyebaran Islam di Nusantara pertama kali adalah di Sumatera yang diperkirakan masuk pada tahun 1292 dengan ditandai akan berdirinya kerajaan Islam di Sumatera yaitu kerajaan Samudera Pasai dan kerajaan Islam Aceh kemudian pada abad ke-15 Islam masuk ke tanah Jawa. Di Jawa banyak didirikan kerajaan-kerajaan Islam yang tersohor dan kuat hingga ada beberapa mubaligh yang disebut Waliyullah diantaranya adalah :
- Syekh Maulana Malik Ibrahim
- Raden Rahmat (Sunan Ampel)
- Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang)
- Raden Paku (Sunan Giri)
- Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati/Fatahillah/Faletehan)
- Jafar Sidiq (Sunan Kudus)
- Raden Prawoto (Sunan Muria)
- Syarifuddin (Sunann Drajat)
- Raden Mas Syahid (Sunan Kalijogo)
Ajaran-ajaran Islam di tanah Jawa berkembang dengan pesat dan cepat diterima oleh masyarakat.
Berdirinya kerajaan Bandar dan Sukadana pada tahun 1521 menandai telah masuknya agama Islam di Kalimantan pada masa pemerintahan Sultan Rexar, bangsa Portugis melalui raja Philipina, De Sande. Saat tahun 1570 Isalm telah sampai di Sulawesi. Sultan terbesar Sulawesi yang menyebarkan Isalm paling jaya adalah Sultan Hassanuddin (1653-1669) yang memerintah Makassar dengan daerah kekuasaan sanat luas.
Seperti halnya di daerah-daerah lain, masuknya Islam di Maluku sukar dipastikan dengan tepat. Namun orang pertama yang terkenal menyebarkan Islam di Maluku adalah Datuk Maulana Husain, beliau datang ke Ternate dan berhasil mengislamkan Raja Ternate, Raja Gapi Baguna II. Jadi penyebaran Islam di Indonesia berkembang sangat cepat dengan ditandai adanya kerajaan-kerajaan besar Islam yang beredar menggantikan kerajaan Hindu-Budha di Indonesia, hal itu berdampak sampai saat ini. Indonesia merupakan negara pemeluk Islam terbesar kedua setelah Arab Saudi.


